Text
Paketan.id
Melipat Rindu di Pangkuan

Melipat Rindu di Pangkuan

Detik.com
Thu, 01 Jan 1970 08:00

"Nurima, tolong tuliskan surat untuk kakakmu. Bilang padanya, kalau nanti dia pulang, luangkan waktu untuk pergi ke rumah bibinya. Ibu sudah pesankan kain motif bunga-bunga untuknya, bisa untuk pergi ke kantor. Dia tinggal pilih mana yang paling disuka, lebih dari dua juga tak apa. Sekarang kakakmu pasti sudah bekerja, kan? Dan orang kuliahan pasti bekerjanya di kantor. Pakaiannya mesti banyak, memalukan kalau itu-itu saja...."

Surat lagi, surat lagi. Aku cuma bisa membuang napas keras-keras yang tak lagi mengejutkan ibuku.

"Menulis surat lagi, Bu? Oh, yang benar saja. Ibu tahu Kakak tak akan pulang. Ibu bahkan sudah meminta Nurima menuliskan surat dan mengirimnya nyaris sebulan sekali tetapi tak pernah ada jawaban. Masih lebih baik kalau baru beberapa bulan. Kita bahkan sudah menulis surat sejak lima tahun. Ibu tak lelah menunggu balasan? Nurima saja bosan menuliskannya."

Aku sama sekali tak bermaksud menutupi kekesalanku. Pada kakakku, Nurmala, yang seperti tak punya hati pada ibunya sendiri; juga pada ibuku yang seakan-akan tak henti-hentinya berusaha membodohi dirinya sendiri, membodohi aku juga. Sia-sia saja berkirim surat tanpa pernah ada balasan. Betul-betul seperti bercakap dengan angin. Bahkan angin pun masih lebih baik, segarnya masih dapat dirasakan. Sementara ini?

Ibu meletakkan jahitan payetnya, melepas kacamata, menaruhnya di pangkuan, dan memandangku lurus-lurus dengan sepasang matanya yang buram. Kalau sudah begini, aku jadi tak berkutik. Bila menjahit payet saja jarum kerap menusuk jari meski kacamata telah dikenakan, apalagi melihatku tanpa kacamata berbingkai cokelat itu dari jarak lima meter lebih? Kurasa Ibu sedang mencermatiku dengan mata batinnya yang selalu jernih. Mati aku kalau begini.

"Dan Ibu masih akan mengatakan hal yang sama. Kakakmu mungkin belum hendak pulang, tetapi bukan berarti ia tak membaca surat-surat kita, kan? Surat-suratnya sampai kok. Dia pasti membacanya. Dan jika kita terus mengetuk pintu, bahkan orang tuli pun pada akhirnya akan membukakannya. Jadi ambil kertas dan penamu atau Ibu minta tolong saja pada anak tetangga. Tulisan Watik agak berantakan, tetapi dia pasti amat sabar menuliskan semuanya."

Selalu begitu. Watik selalu disebut-sebut kalau aku sudah hendak menolak permintaan Ibu untuk menuliskan surat. Ibu benar, Watik pasti sabar betul menuliskan semua yang ingin Ibu tulis. Jangankan sekadar menuliskan surat, jadi tulang punggung keluarga sejak remaja pun tak pernah kudengar ia mengeluh.

Namun jika di rumah masih ada aku yang lebih dari sekadar mahir kalau hanya urusan membaca dan menulis, masa Ibu sampai harus meminta tolong pada Watik atau siapa pun? Apa kata orang nanti? Maka dengan enggan kuambil juga kertas, pena, lengkap dengan amplopnya biar hati Ibu puas.

***

Lima tahun lalu, Kak Mala pergi membawa tas besar. Kak Mala marah pada Ibu lantaran Ibu menolak kehendaknya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ibu bilang, kalau ia menguliahkan Kak Mala, bisa-bisa aku dan si bungsu berhenti sekolah. Padahal saat itu aku baru SMP sementara adikku SD saja baru tahun ketiga.

Kak Mala yang sudah dari dahulu tak menyukai aku dan adikku jadi makin membenci kami. Kami beda ayah dan Kak Mala yakin sekali kalau Ibu tak menikah lagi selepas ayah kandungnya berpulang, ia pasti bisa kuliah. Membesarkan seorang anak apa susahnya? Yang jelas tak akan serepot punya dua anak lagi, kan?

Dahulu, aku selalu tak habis pikir dengan ketidaksukaan Kak Mala padaku dan adikku. Namun lambat laun aku bisa memahaminya. Kak Mala tentu tak akan begitu jika ayah kami bisa diandalkan. Bukannya benci, Kak Mala justru akan merasa beruntung memiliki ayah sambung yang tak kalah baik dari ayah kandungnya.

Sayangnya, ayah kami memang bajingan. Bukan cuma Kak Mala yang geram, kami juga. Dia pergi begitu saja demi perempuan yang jauh lebih muda dari Ibu tak lama setelah Kak Mala masuk SMA.

Bukan main guncangnya perahu kami kala itu. Ibu tak pernah benar-benar mencari uang sepanjang hidupnya. Sempat bekerja sebentar selepas ayah Kak Mala meninggal, tetapi segera berhenti setelah menikah kembali. Jadi bukan perkara mudah untuknya bisa mendapatkan uang sendiri. Apalagi dengan adanya tiga tanggungan. Empat dengan dirinya sendiri.

Ibu butuh waktu untuk segalanya. Untuk bangkit dari keterpurukan setelah ditinggal suami keduanya. Untuk menemukan irama dalam pekerjaan barunya sebagai pemasang payet kebaya sekaligus cara mengatur keuangan yang terbatas sekali. Ibuku yang tak berpengalaman terbilang amat lambat dalam pekerjaannya.

Maka sebanyak-banyak payet yang akhirnya berhasil dijahit, hasilnya tetap tak seberapa. Dan yang tak seberapa itu harus dibagi-bagi untuk semua kebutuhan. Itu pun kalau bukan atas bantuan adik Ibu yang memang punya toko kain dan teman-teman penjahit, mungkin kami semua sudah jadi anak jalanan. Bibi bahkan membantu biaya sekolah kami, tetapi tentu tak bisa selamanya apalagi untuk menguliahkan Kak Mala.

Saat Kak Mala pergi, kami tahu rumah siapa yang hendak ditujunya. Kak Mala sudah menghubungi salah satu adik ayah kandungnya dan pamannya itu bersedia menampung Kak Mala serta menguliahkannya. Ibu tak berkata apa-apa. Namun di kemudian hari, setelah aku lebih besar, barulah Ibu bercerita tentang mantan adik iparnya itu.

Itu adik ayah Kak Mala yang paling kaya. Bekerja di tambang sejak muda, rumahnya sudah seperti istana. Ibu bisa bilang begitu sudah pasti karena ia pernah ke sana. Sejak masih bersuamikan ayah Kak Mala sampai terakhir ketika Kak Mala bersikeras ingin kuliah.

Bisa ditebak, Ibu ke sana untuk meminta bantuan. Namun paman Kak Mala rupanya masih menyimpan murka. Ia tak lagi menaruh hormat dan rasa bersaudara dengan Ibu begitu Ibu menikah kembali. Kata paman Kak Mala, kubur suaminya kering pun belum, Ibu sudah menikah lagi. Seperti tak ada rasa duka saja. Jangan-jangan memang sudah bermain api sejak kakaknya masih ada.

Bahkan ketika Ibu merendahkan dirinya sendiri demi kuliah Kak Mala, ia berkata, "Harusnya kau meminta pada iparmu dari suami keduamu itu. Bukan dariku atau saudaraku yang lain. Tentu hanya jika kau masih punya urat malu."

Tahun demi tahun sudah berlalu dan sikapnya tak pernah melunak pada Ibu. Akan tetapi pada Kak Mala akhirnya ia melunak juga. Ia bahkan terkesan seperti hendak merebut Kak Mala dari Ibu, barangkali untuk menghukum Ibu atas apa yang baginya tampak sebagai dosa.

Namun saat kukatakan dugaanku itu pada Ibu, Ibu selalu bilang, "Bagaimanapun Nurmala memang keponakannya."

Ia bersedia membantu Kak Mala dengan catatan kami tak usah mengganggunya dengan kunjungan-kunjungan. Entah menyindir atau tidak tetapi memang ada benarnya juga, katanya lebih baik ongkos untuk tiga jam perjalanan kami ke sana ditabung saja karena Ibu masih harus menyekolahkan aku dan adikku.

Seperti pisau tak pernah bosan menguliti, ia juga mengingatkan Ibu bahwa aku dan adikku sama sekali bukan tanggung jawabnya. Kalau Ibu merasa pedih karena itu, aku lebih tak terima. Sumpah mati lebih baik menjadi gembel daripada mengikuti jejak Kak Mala. Begitulah riwayat surat-surat Ibu mengalir seperti air dari hulu ke hilir dan tak pernah sebaliknya.

***

Baru dua hari surat kukirimkan, jelang siang seorang kurir tampak menanyakan alamat kami pada tetangga. Ibu yang melihatnya sontak girang bukan kepalang. Setiap bulan selama lima tahun, surat-suratnya akhirnya berbalas juga.

Ia langsung menyongsong si kurir sambil berteriak-teriak, "Sini! Di sini! Rumahku di sini!"

Namun langkahnya seketika terhenti, senyumnya surut, lalu cahaya di wajahnya padam saat kurir mengeluarkan banyak sekali amplop dari tasnya. Amplop-amplop yang terasa tak asing.

"Aduh, maaf sekali, Bu. Kurir yang ditugaskan di wilayah alamat ini masih baru dan payah. Seharusnya, surat-surat yang tak sampai ke tujuan segera dilaporkan ke kantor dan dikembalikan ke alamat pengirim. Paling tidak menghubungi pengirimnya, tetapi ini malah disimpan saja dalam lacinya. Ini surat Ibu yang terbaru, ini yang sebelum-sebelumnya.

Saat kami cecar, kurir sialan itu bilang, rumah dengan alamat ini sudah tak berpenghuni sejak berbulan-bulan lalu. Orang-orang di sekitarnya bilang sudah terjual, tetapi pemilik barunya belum juga tampak batang hidungnya. Sementara penghuni lama tak diketahui pindah ke mana. Kami memohon maaf atas keteledoran kurir kami. Dia sudah kami berhentikan. Semoga Ibu tak jera berkirim surat dengan jasa kami. Kami berjanji yang seperti ini tak akan terjadi lagi."

"Tak adakah selembar saja surat lain untuk kami, Anak Muda?"

Kurir itu terlihat bingung. "Tidak, saya yakin tidak ada, Bu. Nanti saya cari lagi. Kalau ada, pasti saya antarkan."

Aku memberi isyarat pada kurir itu agar pergi dan merangkul bahu Ibu yang gemetar. "Masuklah, Bu. Tak enak dilihat orang."

Hari sudah hampir gelap saat aku memberanikan diri bertanya, "Bu, kain Bibi bagaimana? Kita batalkan saja? Kalau ya, Nurima ke sana sekarang. Lebih cepat memastikannya tentu lebih baik, agar Bibi tak menunggu-nunggu."

Ibu menggeleng pelan. "Jangan dibatalkan. Pilihlah barang dua. Kasihan bibimu kalau tak jadi. Selama ini dia sudah baik sekali pada kita. Lagi pula, tak ada burung yang tak pulang ke sarang."

Malam itu, aku menghamparkan dua kain motif bunga-bunga di depan Ibu. Kupilih yang ungu dan merah marun, serta bunganya tak terlalu besar-besar. Ibu bilang, pilihan yang bagus.

Namun saat aku hendak melipatnya kembali, Ibu meminta ia saja yang melipatnya. Aku mengangsurkan keduanya dan Ibu mulai melipatnya tanpa suara. Malam itu, aku tak melihat selembar kain pun di pangkuannya melainkan untaian panjang kerinduan untuk seekor burung yang lupa jalan pulang.

Marliana Kuswanti buku terbarunya Kedai Nyonya O (Bhuana Ilmu Populer, 2019) dan Rumah Kayu Itu (Bhuana Sastra, 2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

Klik disini untuk halaman asli.
Berita Lainnya
Situs Paketan.id tidak bekerja sama atau berafiliasi dengan perusahaan ekspedisi.
Paketan.id Tracking Icon Lacak Paket
Paketan.id Shipping Cost Icon Biaya Pengiriman
Paketan.id History Icon Histori